Pertemuan IKAFI
Tanggal 27 November 2011
Dibuka oleh ketua
ikafi Rohimat Saputra
IKAPFI
PUNYA AMBISI
(Selangkah
maju demi kebaikan, lebih baik. Daripada mundur seribu langkah menghindarinya)
P
|
ada
hari ahad tanggal 13 November 2011 M / 17 Dzulhijjah 1432 H, diselenggarakan
musyawarah Ikatan Alumni Pesantren Firdaus Pangalengan (IKAPFI) yang dihadiri
kurang lebih 40 (empat puluh) orang. Kebetulan pada pertemuan sebelumnya
dibentuk kepanitiaan musyawarah IKAPFI yang bertugas menyelenggarakan musyawarah
dan pemilihan kepengurusan yang baru. Saya (Rohimat Saputra) ditunjuk sebagai
ketua panitia musyawarah tersebut.
Saudara
Eki Syarif membukan acara sekaligus menjadi pembawa acara. Sambutan ketua
panitia (Rohimat Saputra) memaparkan sekilas tentang tema musyawarah IKAPFI
yaitu: “Ngarumat Rasa ku Lampah nu Nyata
(Alumni nu Mirig Wanci Mapay Mangsa
Nunggu Dawuh)”. Manusia yang lahir ke dunia ini mempunyai tugas berat
sebagai kholifah (pemimpin) di muka bumi ini. Dengan bekal aqal dan hati,
manusia diberi beban berat mengurus kehidupan dunia yang penuh dengan sesi
permainan. Hanya manusia yang mampu memelihara rasa lah dalam era globalisasi ini, yang diharapkan mampu
mengendalikan kehidupan yang baik. Karena rasa tidak bisa dibohongi dan rasa
selalu berkata fakta dan apa adanya.
Ketika
manusia sudah mempunyai rasa dan perasaan, tentu dia akan bertindak dengan
segala asa. Karena terminology rasa menuntut juga adanya sebuah tindakan atau
langkah nyata. Seiring dengan hal inilah panitia mengangkat tema musyawarah seperti
di atas. Selanjutnya, tema turunannya merupakan sebuah keniscayaan hidup yang
selalu berpacu dengan waktu. Yakni masa lalu yang sudah dilewati penuh dengan
kisah dan pengalaman, saat ini sebagai kenyataan yang sedang dialami, dan masa
depan sebagai tantangan masa depan yang penuh dangan harapan. Itulah inti dari
paparan dari tema di atas.
Sambutan
dari Pimpinan Pesantren (Ustadz Pipip Firmansyah) mengemukakan, bahwa antara
alumni dan almamaternya tidak bisa dilepaskan. Bahkan keduanya merupakan sebuah
system yang berkesinambungan dalam sebuah perjalanan ke depan. Peran alumni
merupakan peedback dalam sebuah
proses perjalanan dakwah. Alumni adalah hasil didikan pesantren yang sudah
berkiprah di tengah-tengan masyarakat. Dalam posisinya ini alumni sudah bisa
melihat pesantren dari luar system dan bebas menilai. Penilaian ini bisa
dijadikan in-put (masukan) bagi pesantren dalam menentukan kebijakan yang lebih
baik. Apabila hal ini terus berjalan, maka akan terjadi sebuah gerakan seperti
halnya spiral peningkatan kualitas keduanya.
Musyawarah
tidak terlalu formal dan normatif, walaupun dipilih tiga orang presidium
siding, yaitu Sdr. Uus (ketua), Sdr. Atep (anggota) dan Sdr. Taufiq (anggota).
Forum ini lebih menitik beratkan kepada sebuah eksplorasi ide dan gagasan
peserta yang berhubungan dengan masalah pesantren secara umum. Peserta bisa
dengan leluasa menyampaikan ide dan gagasannya berkenaan dengan peran alumni
dan pesantren. Sehingga bisa diambil beberapa pointer penting berikut ini:
1. Rasa
memiliki alumni terhadap almamaternya sangat tinggi
2. Alumni
ingin memberikan kontribusi terhadap almamaternya (tapi tidak mesti berbentuk
materi). Seperti dalam merekrut siswa baru, ikut mengharumkan nama
almamaternya, kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pesantren baik langsung
atau tidak, dan lain-lain. Tetapi, hal ini harus diimbangi dengan respon,
pasilitas dan pelayanan di pesantren itu sendiri. Contoh kasus, apabila ada
siswa yang jauh sedangkan asrama tidak ada, maka akan menjadi masalah
tersendiri.
3. Peran
alumni sangat strategis, karena sebagai iklan berjalan dalam mempromosikan
almamaternya (baik atau jeleknya juga). Alumni juga bisa menjadi rujukan bagi
masyarakat dalam menentukan pilihan pendidikan anaknya.
4. Dengan
tidak bermaksud lancang, dalam pandangan alumni, Yayasan firdaus yang
didalamnya ada pondok pesantren mesti membuat sebuah kebijakan yang kongkrit
dan terukur. Hal ini demi menjamin terselenggaranya system kepesantrenan yang
baik. Penempatan orang dengan tugas dan tanggungjawabnya mesti dievaluasi secara
berkala. Indikasi rilnya bisa dilihat dari tidak terpeliharanya asset-aset
pesantren dengan baik. Padahal asset pesantren sangat besar, siapa
penanggungjawab dan pengelolanya, bagaimana keadaannya?
5. Ada
indikasi lemahnya dalam pengelolaan kearsipan dan dokumen pesantren. Hal ini
dalam pandangan alumni sangat patal, karena secara administratif normatif alumni akan selalu membutuhkan
dokumen yang berhubungan dengan statusnya waktu belajar. Contoh kasus, ketika
ada salah seorang alumni yang tertimpa musibah sehingga Ijazahnya tidak ada,
maka pesantren mestinya selalu punya arsipnya walaupun sudah ratusan tahun
(kecuali kalau pesantrennya kena musibah juga).
6. Pesantren mesti mengambil sikap yang arif dan
bijak dalam menghadapi system pendidikan dewasa ini. Ada sebuah skenario besar
yang secara tidak sadar sedang mengkoyak-koyak kekokohan lembaga pendidikan
yang berbasis pesantren. Pesantren merupakan jatidiri kita yang harus di
pertahankan dan disebarkan, tetapi tidak serta-merta menghindari dari tuntutan
system. Ada indikasi pesantren menjadi limbung dihantam kebijakan pendidikan
Indonesia saat ini.
7. Evaluasi
dan sikapi kebijakan Biaya Operasional Sekolah (BOS) dan program Sertifikasi.
Jangan sampai semakin menjauhkan dari visi dan misi ideal pesantren dan menjadi
sumber perpecahan diinternal lembaga.
8. Mesti
dilakukan pertemuan antara pihak yayasan, pesantren (asatidznya), komite
sekolah dan alumni.
Kedelapan
poin ini menjadi bahasan bersama dan merupakan lahan pekerjaan bagai
kepengurusan IKAPFI periode 2011 – 2014.
Sesi
selanjutnya adalah pemilihan ketua IKAPFI baru, muncul beberapa nama yang
dicalonkan, diantaranya: M. Didin Budiman (Kades Pulosari), Rohimat Saputra,
Eki Syarif, Rukman Sopian, Hasan, Nazar. Dalam perdebatan selanjuntnya, M.
Didin Budiman mundur dengan alasan sedang menjabat sebagai Kades, Eki Syarif
juga mundur. Tinggalah Rohimat Saputra, Rukman Sopian Dan Hasan sebagai calon.
Dalam proses pemilihan yang diikuti 38 peserta, Sdr. Rohimat Saputra memperoleh
29 suara, Sdr. Rukman Sopian memperoleh 6 suara, Sdr. Hasan Memperoleh 1 suara,
dan 1 abstain.
Maka forum menetapkan
Sdr. Rohimat Saputra sebagai ketua terpilih


Tidak ada komentar:
Posting Komentar