Minggu, 20 November 2011

ASALAMUALAIKAUM WR. WB


Pertemuan IKAFI Tanggal 27 November 2011
Dibuka oleh ketua ikafi Rohimat Saputra

IKAPFI PUNYA AMBISI
(Selangkah maju demi kebaikan, lebih baik. Daripada mundur seribu langkah menghindarinya)

P
ada hari ahad tanggal 13 November 2011 M / 17 Dzulhijjah 1432 H, diselenggarakan musyawarah Ikatan Alumni Pesantren Firdaus Pangalengan (IKAPFI) yang dihadiri kurang lebih 40 (empat puluh) orang. Kebetulan pada pertemuan sebelumnya dibentuk kepanitiaan musyawarah IKAPFI yang bertugas menyelenggarakan musyawarah dan pemilihan kepengurusan yang baru. Saya (Rohimat Saputra) ditunjuk sebagai ketua panitia musyawarah tersebut.
Saudara Eki Syarif membukan acara sekaligus menjadi pembawa acara. Sambutan ketua panitia (Rohimat Saputra) memaparkan sekilas tentang tema musyawarah IKAPFI yaitu: “Ngarumat Rasa ku Lampah nu Nyata (Alumni nu Mirig Wanci Mapay Mangsa Nunggu Dawuh)”. Manusia yang lahir ke dunia ini mempunyai tugas berat sebagai kholifah (pemimpin) di muka bumi ini. Dengan bekal aqal dan hati, manusia diberi beban berat mengurus kehidupan dunia yang penuh dengan sesi permainan. Hanya manusia yang mampu memelihara rasa lah dalam era globalisasi ini, yang diharapkan mampu mengendalikan kehidupan yang baik. Karena rasa tidak bisa dibohongi dan rasa selalu berkata fakta dan apa adanya.
Ketika manusia sudah mempunyai rasa dan perasaan, tentu dia akan bertindak dengan segala asa. Karena terminology rasa menuntut juga adanya sebuah tindakan atau langkah nyata. Seiring dengan hal inilah panitia mengangkat tema musyawarah seperti di atas. Selanjutnya, tema turunannya merupakan sebuah keniscayaan hidup yang selalu berpacu dengan waktu. Yakni masa lalu yang sudah dilewati penuh dengan kisah dan pengalaman, saat ini sebagai kenyataan yang sedang dialami, dan masa depan sebagai tantangan masa depan yang penuh dangan harapan. Itulah inti dari paparan dari tema di atas.
Sambutan dari Pimpinan Pesantren (Ustadz Pipip Firmansyah) mengemukakan, bahwa antara alumni dan almamaternya tidak bisa dilepaskan. Bahkan keduanya merupakan sebuah system yang berkesinambungan dalam sebuah perjalanan ke depan. Peran alumni merupakan peedback dalam sebuah proses perjalanan dakwah. Alumni adalah hasil didikan pesantren yang sudah berkiprah di tengah-tengan masyarakat. Dalam posisinya ini alumni sudah bisa melihat pesantren dari luar system dan bebas menilai. Penilaian ini bisa dijadikan in-put (masukan) bagi pesantren dalam menentukan kebijakan yang lebih baik. Apabila hal ini terus berjalan, maka akan terjadi sebuah gerakan seperti halnya spiral peningkatan kualitas keduanya.
Musyawarah tidak terlalu formal dan normatif, walaupun dipilih tiga orang presidium siding, yaitu Sdr. Uus (ketua), Sdr. Atep (anggota) dan Sdr. Taufiq (anggota). Forum ini lebih menitik beratkan kepada sebuah eksplorasi ide dan gagasan peserta yang berhubungan dengan masalah pesantren secara umum. Peserta bisa dengan leluasa menyampaikan ide dan gagasannya berkenaan dengan peran alumni dan pesantren. Sehingga bisa diambil beberapa pointer penting berikut ini:
1.      Rasa memiliki alumni terhadap almamaternya sangat tinggi
2.      Alumni ingin memberikan kontribusi terhadap almamaternya (tapi tidak mesti berbentuk materi). Seperti dalam merekrut siswa baru, ikut mengharumkan nama almamaternya, kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pesantren baik langsung atau tidak, dan lain-lain. Tetapi, hal ini harus diimbangi dengan respon, pasilitas dan pelayanan di pesantren itu sendiri. Contoh kasus, apabila ada siswa yang jauh sedangkan asrama tidak ada, maka akan menjadi masalah tersendiri.
3.      Peran alumni sangat strategis, karena sebagai iklan berjalan dalam mempromosikan almamaternya (baik atau jeleknya juga). Alumni juga bisa menjadi rujukan bagi masyarakat dalam menentukan pilihan pendidikan anaknya.
4.      Dengan tidak bermaksud lancang, dalam pandangan alumni, Yayasan firdaus yang didalamnya ada pondok pesantren mesti membuat sebuah kebijakan yang kongkrit dan terukur. Hal ini demi menjamin terselenggaranya system kepesantrenan yang baik. Penempatan orang dengan tugas dan tanggungjawabnya mesti dievaluasi secara berkala. Indikasi rilnya bisa dilihat dari tidak terpeliharanya asset-aset pesantren dengan baik. Padahal asset pesantren sangat besar, siapa penanggungjawab dan pengelolanya, bagaimana keadaannya?
5.      Ada indikasi lemahnya dalam pengelolaan kearsipan dan dokumen pesantren. Hal ini dalam pandangan alumni sangat patal, karena secara administratif  normatif alumni akan selalu membutuhkan dokumen yang berhubungan dengan statusnya waktu belajar. Contoh kasus, ketika ada salah seorang alumni yang tertimpa musibah sehingga Ijazahnya tidak ada, maka pesantren mestinya selalu punya arsipnya walaupun sudah ratusan tahun (kecuali kalau pesantrennya kena musibah juga).
6.       Pesantren mesti mengambil sikap yang arif dan bijak dalam menghadapi system pendidikan dewasa ini. Ada sebuah skenario besar yang secara tidak sadar sedang mengkoyak-koyak kekokohan lembaga pendidikan yang berbasis pesantren. Pesantren merupakan jatidiri kita yang harus di pertahankan dan disebarkan, tetapi tidak serta-merta menghindari dari tuntutan system. Ada indikasi pesantren menjadi limbung dihantam kebijakan pendidikan Indonesia saat ini.
7.      Evaluasi dan sikapi kebijakan Biaya Operasional Sekolah (BOS) dan program Sertifikasi. Jangan sampai semakin menjauhkan dari visi dan misi ideal pesantren dan menjadi sumber perpecahan diinternal lembaga.
8.      Mesti dilakukan pertemuan antara pihak yayasan, pesantren (asatidznya), komite sekolah dan alumni.
Kedelapan poin ini menjadi bahasan bersama dan merupakan lahan pekerjaan bagai kepengurusan IKAPFI periode 2011 – 2014.
Sesi selanjutnya adalah pemilihan ketua IKAPFI baru, muncul beberapa nama yang dicalonkan, diantaranya: M. Didin Budiman (Kades Pulosari), Rohimat Saputra, Eki Syarif, Rukman Sopian, Hasan, Nazar. Dalam perdebatan selanjuntnya, M. Didin Budiman mundur dengan alasan sedang menjabat sebagai Kades, Eki Syarif juga mundur. Tinggalah Rohimat Saputra, Rukman Sopian Dan Hasan sebagai calon. Dalam proses pemilihan yang diikuti 38 peserta, Sdr. Rohimat Saputra memperoleh 29 suara, Sdr. Rukman Sopian memperoleh 6 suara, Sdr. Hasan Memperoleh 1 suara, dan 1 abstain.
Maka forum menetapkan Sdr. Rohimat Saputra sebagai ketua terpilih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar